Detail Informasi
Sup Belanda Menjadi Kuliner Khas Kota Magelang
Wed, 12 Mar 2025 | Geza Pramono
Share :

Salah satu kuliner khas Magelang yang memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan masa kolonial ada Sop senerek. Nama "Senerek" sendiri berasal dari kata "snert", yang merupakan sebutan untuk sup kacang polong khas Belanda. Pada masa kolonial, makanan ini sering disajikan kepada tentara Belanda yang bertugas di Hindia Belanda, terutama Magelang sebagai kota tangsi militer pada kala itu. 

 

Dari Snert ke Senerek

                       

(Sop Senerek. Sumber: cookpad)

Snert merupakan sup kacang polong hijau yang dimasak hingga kental dan biasanya disajikan dengan roti atau daging. Namun di Indonesia, khususnya di Magelang, kacang polong tidak mudah ditemukan. Oleh karenaa itu, masyarakat setempat mulai menggantinya dengan kacang merah, yang lebih umum dibudidayakan di daerah ini. Selain itu, lidah orang Jawa kesulitan melafalkan "snert" seingga seiring waktu, penyebutan berubah menjadi "senerek". 

 

Perubahan bahan dan cara penyajian membuat Sop Senerek menjadi hidangan yang lebih sesuai dengan selera masyarakat lokal. Jika snert memiliki kuah yang cenderung kental, maka Sop Senerek memiliki kuah yang lebih bening dan ringan, dengan cita rasa gurih yang berasal dari kaldu sapi dan ayam. Sop Senerek memiliki isian yang cukup kaya. Selain kacang merah sebagai bahan utamanya, sop ini juga berisi wortel, bayam, seledri, dan daun bawang. Untuk menambah cita rasa, daging sapi atau ayam sering kali ditambahkan. 

 

Hingga saat ini, Sop Senerek tetap menjadi salah satu makanan favorit masyarakat Magelang dan sering disajikan dalam berbagai kesempatan, baik sebagai makanan sehari-hari maupun dalam acara keluarga. Keberadaan Sop Senerek juga mencerminkan bagaimana kuliner di Indonesia terus berkembang melalui proses akulturasi. Dari makanan khas Belanda, Sop Senerek telah beradaptasi menjadi bagian dari warisan kuliner Nusantara yang memiliki rasa dan karakteristik tersendiri.