Detail Informasi
Pakunya Tanah Jawa di Magelang
Wed, 12 Mar 2025 | Geza Pramono
Share :

                                     sumber: kompas.com

(Gunung Tidar. Sumber: Kompas.com)

 

Asal-usul Pakunya Tanah Jawa

Di Tengah kota Magelang, berdiri sebuah gunung dengan ketinggian 503 meter di atas permukaan laut (mdpl). Gunung ini dikunjungi banyak peziarah dalam kurun waktu yang tak menentu, lantaran sekaligus menjadi kawasan wisata religi. Konon, gunung inilah yang menjadi penyeimbang pulau Jawa, dan menurut mitologi Jawa, gunung ini dikenal sebagai "Pakunya Tanah Jawa" dikarenakan dahulu, Pulau Jawa diceritakan selalu terombang-ambing di lautan. Untuk menstabilkannya, para dewa menancapkan sebuah paku rasaksa di tengah pulau, yang kemudian menjadi Gunung Tidar. 

 

Asal-usul nama "Tidar" sendiri memiliki beberapa versi. Salah satu versi menyebutkan bahwa nama tersebut berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yaitu "mati" dan "modar", yang keduanya berarti kematian. Hal ini terkait kepercayaan bahwa gunung tersebut dahulu dihuni oleh makhluk gaib berbahaya, sehingga siapapun yang mendekati area ini akan menemui ajalnya. Dalam upaya menyebarkan agama Islam dan menaklukkan kekuatan gaib di Pulau Jawa, seorang ulama asal Persia bernama Syeikh Subakir datang ke Gunung Tidar. Beliau menancapkan sebuah paku spiritual berupa batu hitam berisi rajah Kalacakra di puncak gunung untuk mengusir makhluk-makhluk gaib. Tindakan ini dipercaya berhasil menstabilkan pulau Jawa sehingga menjadikan Gunung Tidar sebagai pusat spiritual.

 

Makam syeikh Subakir terletak di tengah lereng Gunung Tidar. Meskipun disebut "makam" tempat ini justru lebih dianggap sebagai petilasan atau lokasi di mana Syekh Subakir pernah melakukan aktivitas spiritual. Setiap tahun, terutama pada hari Jumat pertama bulan Safar dalam kalender Hijriyah, masyarakat setempat mengadakan peringatan haul Syekh Subakir sebagai bentuk penghormatan atas jasa beliau dalam penyebaran Islam di wilayah ini.

 

Makam Tionghoa di Gunung Tidar

Kalau kita berjalan menuju puncak gunung Tidar, di kanan dan kiri jalan akan mudah dijumpai makam Tionghoa, khas dengan gaya tradisional Tiongkok. Hal ini mencerminkan bahwa Gunung Tidar juga menjadi simbol toleransi dan akulturasi budaya antara masyarakat lokal dan komunitas Tionghoa di Magelang. Di pertengahan tahun 1800-an, terdapat tiga lokasi pemakaman bagi masyarakat Tionghoa di kota Magelang, yang salah satunya di lereng Gunung Tidar. Pemilihan lokasi ini didasarkan prinsip FengShui yang mengutamakan area lereng dan ketinggian. Keadaan makam-makam Tionghoa ini mencerminkan hubungan harmonis dan saling menghormati antara masyarakat lokal dan komunitas Tionghoa, serta menunjukkan integrasi budaya yang kuat di wilayah ini.